Efektivitas Penggunaan Modul Fisika Berbasis Inquiry Learning dalam meningkatkan Creative Thinking Skills Peserta Didik
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran peningkatan Creative Thinking Skills peserta didik setelah menggunakan Modul Fisika Berbasis Inquiry Learning dan untuk mengetahui seberapa besar keefektifan penggunaan Modul Fisika Berbasis Inquiry Learning terhadap hasil belajar peserta didik. Metode yang digunakan adalah Pre-Experimental Design dengan menggunakan One Group Pre-Test and Post-Test.. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen tes hasil belajar. Teknik analisis data yang digunakan, yaitu analisis data statistik deskriptif. Hasil Creative Thinking Skills peserta didik mengalami peningkatan pada setiap pertemuan dengan rata-rata nilai gain dari setiap pertemuan adalah 0,33. Pada aspek sikap ilmiah peserta didik mengalami peningkatan pada setiap pertemuan dan secara keseluruhan sikap peserta didik berada dalam kategori baik dengan rata-rata sebesar 75,71. Nilai aspek pengetahuan rata-rata peserta didik dari 4 pertemuan tersebut berada di atas nilai ketuntasan, yaitu 76,92. Pada aspek keterampilan ilmiah peserta didik mengalami peningkatan pada setiap pertemuan dan secara keseluruhan rata-rata keterampilan peserta didik adalah 80,77 dan berada pada pada interval 75-90 dengan kategori sangat baik. Dengan demikian, Modul Fisika Berbasis Inquiry Learning efektif digunakan karena nilai hasil belajar peserta didik secara klasikal sebanyak 75% mencapai standar KKM dan secara keseluruhan rata-rata Creative Thinking Skills peserta didik adalah 79,89 dan berada pada interval 66-79 dengan kategori kreatif.
References
[2] Stenberg, R.J & )’Hara, L. A. 1998. Creativity and Intelligent in Handbook of Crativity. Cambrigde: Cambridge University Press.
[3] Hürsen et al. 2014. Assessment of Creative Thinking Studies In Terms of Content Analysis. Procedia-Social and Behavioral Sciences 143 (2014) 1177–1185.
[4] Eragamreddy, Nagamurali. 2013. Teaching Creative Thinking Skills. IJ-ELTS: International Journal of English Language & Translation Studies Vol: 1, Issue: 2.
[5] Munandar. 1985. Mengembangkan Bakat Dan Kreatifitas Anak Sekolah. Jakarta: Gramedia.
[6] Amin, M. 1987. Mengajar IPA dengan Metode Discovery dan Inquiry. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
[7] Supriadi E. 1996. Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan IPTEK. Bandung: CV. Alfabeta.
[8] Lim, B.-R. 2004. Challenges and issues in designing inquiry on the Web. British Journal of Educational Technology 35: 627–643.
[9] Bonnstetter, R. J. (1998) Electronic Journal of Science Education V3 N1 - September 1998 - Bonnstetter Guest Editorial. Diakses pada 26 September 2016, from: http://unr.edu/homepage/jcannon/ejse/bonnst etter.html.
[10] Hanson, David. M. 2007. Designing Process-Oriented Guided-Inquiry. Stony Brook: Stony Brook University
[11] Sugiyono. 2001. Metode Penelitian. Bandung: CV Alfa Beta.
[12] Hurlock, Elizabeth B. 2005. Perkembangan Anak. Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga.
[13] Suryosubroto, B. 2009. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta: PT Rhineka.
[14] Hamalik, Oemar. 1990. Evaluasi Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[15] Sudjana, N., dan Rivai, A. 2003. Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru.
[16] Rachmadhani, P. Handaru. 2014. Penerapan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif dan Keterampilan Proses Sains Peserta didik Kelas X-MIA 1 SMA Negeri 1 Gondang Tulungagung. Thesis. Jurusan Pendidikan Fisika FMIPA UM. Malang.
[17] Oktafiana, Septi. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Fisika Berbasis Guided Inquiry untuk Meningkatkan Berpikir Kreatif Siswa. Thesis. Jurusan Fisika FMIPA UNS. Semarang.
[18] National Science Education Standards. 1996. Science Content Standart. National Committee on Science Education Standards and Assessment. Washington. National Research Council.









